Sumbawa Barat- Di bawah langit Kelurahan Bugis yang masih menyimpan sisa-sisa bayang bencana sosial, suasana pagi itu terasa berbeda. Tawa anak-anak terdengar bercampur dengan irama senam bersama. Krayon berwarna-warni digenggam erat, kertas putih menjadi kanvas imajinasi, sementara terapi bermain berlangsung dengan penuh kehangatan. Inilah potret Layanan Dukungan Psikososial (Trauma Healing) yang digelar Dinas Sosial Kabupaten Sumbawa Barat bersama Taruna Siaga Bencana (TAGANA).
Kegiatan yang bertujuan memulihkan kondisi psikologis warga terdampak ini tidak sekadar formalitas. Ia dirancang agar menyentuh sisi paling manusiawi: rasa aman, kehangatan, dan kesempatan untuk kembali menjadi anak-anak.
Sekretaris Dinas Sosial Kabupaten Sumbawa Barat, Andy Suwandy, menjelaskan kepada lensantbnew.com, Jumat (21/8), bahwa pendekatan interaktif menjadi kunci keberhasilan kegiatan ini.
“Kami mengemas kegiatan secara menyenangkan agar warga, terutama anak-anak, dapat kembali beraktivitas dengan nyaman. Ada senam bersama, skrining kesehatan, belajar menggambar, hingga terapi bermain. Melalui semua itu, kami ingin menciptakan ruang yang aman dan positif bagi anak-anak untuk berekspresi, bermain, dan berinteraksi dengan teman sebaya,” ujar Andy.
Lebih dari sekadar pendampingan pascabencana, kegiatan ini menjadi jembatan pemulihan emosional. Anak-anak yang sempat kehilangan rasa aman perlahan diajak kembali menemukan keceriaan. Senam bersama membangun semangat kolektif, skrining kesehatan memastikan kondisi fisik terpantau, sementara menggambar dan bermain menjadi media ekspresi yang menyembuhkan tanpa kata-kata.
Andy menekankan bahwa langkah ini merupakan bagian integral dari tugas Dinas Sosial dalam memberikan perlindungan dan pelayanan sosial kepada masyarakat terdampak. “Kami tidak hanya hadir di saat krisis, tetapi juga mendampingi proses pemulihan sosial dan psikologis agar masyarakat bisa bangkit secara utuh,” tambahnya.
Di tengah kesederhanaan kegiatan, makna yang dihadirkan justru dalam. Trauma Healing di Kelurahan Bugis menjadi pengingat bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya soal materi, tetapi juga soal memulihkan jiwa. Melalui tawa, warna, dan permainan, anak-anak diajak menata kembali harapan.
Diharapkan, langkah kecil namun bermakna ini mampu membantu masyarakat Kelurahan Bugis secara bertahap memulihkan kondisi emosional. Sehingga, perlahan tapi pasti, mereka bisa kembali menjalani hari-hari dengan lebih tenang, percaya diri, dan penuh senyum.
