Screenshot_20260915_133052_Google

Lensantbnews.com, Sumbawa Barat — Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) mulai membenahi sistem air bersih di Desa Seloto, Kecamatan Taliwang. Langkah ini diambil menyusul dampak kekeringan yang mulai dirasakan masyarakat. Penanganan dilakukan dengan memperbaiki jaringan perpipaan sekaligus mengoptimalkan sumber air yang masih tersedia.

Kepala Bidang Cipta Karya Dinas PUPR KSB, Firman Wihono, ST., M.E., menyatakan penanganan diarahkan pada jaringan perpipaan dari bendungan menuju reservoir serta pemanfaatan sumber air yang ada. Langkah tersebut dilakukan sejak memasuki masa dampak kekeringan agar persoalan pasokan air tidak semakin meluas.

“Penanganan ini masuk pascabencana dampak kekeringan. Jadi kami tidak menunggu bencana kekeringan sudah datang,” kata Firman dalam wawancara, Senin, 24 Agustus 2026.

Menurut Firman, persoalan utama yang ditemukan berada pada jalur perpipaan. Sejumlah pipa mengalami kebocoran bahkan terputus di beberapa titik. Dengan anggaran yang tersedia tahun ini, PUPR memprioritaskan penggantian jalur utama menuju kawasan yang terdampak kekeringan sepanjang sekitar 300 meter.

“Kami punya anggaran tahun ini hanya bisa mengganti jalur utama. Kami akan coba optimalkan dulu menuju areal kekeringan ini, sekitar 300 meter,” jelasnya.

Untuk sambungan rumah atau service connection (SR), PUPR tidak memasang sambungan langsung ke setiap rumah. Sebagai gantinya, sejumlah titik keran akan disiapkan di sepanjang jalur utama. Masyarakat yang membutuhkan sambungan ke rumah nantinya dapat berkoordinasi dengan pemerintah desa.

Di sisi sumber air, PUPR juga mengoptimalkan tiga sumur yang berada di kawasan Seloto. Beberapa sumber tersebut berada di sekitar kawasan makam dan kebun PKK. Ketiganya telah dibersihkan dan terus diupayakan agar dapat menopang kebutuhan air masyarakat selama kondisi kekeringan.

Sementara itu, jaringan perpipaan dari bendungan menuju reservoir yang telah terpasang masih belum mengalir maksimal. Hasil pengujian menunjukkan debit air dari bendungan masih besar, namun air yang sampai ke reservoir relatif kecil. PUPR menduga terdapat endapan di dalam jaringan sehingga diperlukan pembersihan atau flushing menggunakan kompresor sebelum pengujian kembali.

“Kemarin kami uji di jalur bendungan, debit airnya masih besar. Masalahnya sekarang air yang naik ke reservoir kecil. Kemungkinan ada endapan di jaringan pipa,” terang Firman.

Selain persoalan jaringan, PUPR juga menyoroti pengelolaan sarana air bersih di tingkat masyarakat yang belum maksimal. Sarana yang sebelumnya dibangun melalui program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) membutuhkan keterlibatan masyarakat, bukan hanya sebagai pengguna, tetapi juga sebagai badan pengelola.

“Bukan kerja kami sendiri. Pemerintah desa dan masyarakat juga harus terlibat dalam hal ini,” tegasnya.

Firman berharap perbaikan jaringan dan optimalisasi sumber air dapat diikuti dengan peningkatan peran masyarakat dalam mengelola serta merawat sarana yang tersedia. Setelah flushing dilakukan, PUPR akan kembali menguji jaringan untuk memastikan kondisi aliran dan menentukan langkah penanganan berikutnya. Dengan keterlibatan pemerintah desa dan masyarakat, sistem air bersih di Seloto diharapkan tidak hanya mampu menjawab kebutuhan selama kekeringan, tetapi juga dapat berjalan dan terkelola secara berkelanjutan.Ln

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *