IMG-20260810-WA0044

Lensantbnews.com Sumbawa Barat – Haru dan bangga menyelimuti suasana pelepasan 50 putra-putri terbaik Sumbawa Barat di Gedung Graha Fitrah, Di hadapan orang tua yang tak henti menitikkan air mata bahagia, satu per satu nama dipanggil, menandai babak baru bagi anak-anak daerah yang selama ini mungkin hanya bisa memimpikan bangku kuliah di tanah Jawa. Orang tua Mahasiswa, yang turut hadir melepas keberangkatan mereka, tak kuasa menyembunyikan rasa haru saat menatap wajah anaknya penuh harap, Dimana sebagian di antaranya adalah anak petani dan buruh yang untuk pertama kalinya akan meninggalkan kampung halaman demi mengejar mimpi.

Air mata haru pun tak terbendung ketika para orang tua memeluk erat anak-anak mereka untuk terakhir kalinya sebelum bus membawa mereka pergi menuju Cikarang, Jawa Barat. Bagi banyak keluarga di Sumbawa Barat, momen ini bukan sekadar pelepasan mahasiswa beasiswa — ini adalah harapan yang akhirnya menemukan jalannya, sebuah janji masa depan yang lebih baik bagi generasi penerus daerah penghasil tembaga dan emas ini.

Di antara 50 nama yang terpilih sebagai penerima beasiswa AMMAN Scholars D3 Teknik Sipil dan Infrastruktur, ada nama Sikfar Rezi Ramadhan. Pria 22 tahun asal Lingkungan Tiang Enam, Kelurahan Kuang, Kecamatan Taliwang, Sumbawa Barat ini bukan berasal dari keluarga berada. Ayahnya, Dedi Surya Pratama, sehari-hari bekerja sebagai buruh bangunan. Dari pagi hingga sore, tangan kasar Dedi memegang semen, batu bata, dan kayu, sementara Ibunya Nurmiatai seorang ibu rumah tangga di rumah mengurus kebutuhan dapur dengan penghasilan yang tak menentu.

Sejak kecil, Sikfar sudah akrab dengan bau semen dan debu konstruksi. Ia sering ikut ayahnya ke lokasi bangunan, sekadar membantu mengangkat material atau sekadar duduk di tepi galian. “Saya sering lihat Bapak kerja keras, tapi hasilnya cuma cukup buat makan sehari-hari. Saya enggak mau hidup seperti itu terus,” ujarnya pelan kepada team Lensantbnews.com. Senin, (3/8)

Keinginan untuk keluar dari lingkaran itu yang mendorong Sikfar mendaftar beasiswa AMMAN Scholars. Ia memilih jurusan Teknik Sipil dan Infrastruktur karena merasa dekat dengan dunia yang sudah ia kenal sejak kecil. “Kalau Bapak kerja di lapangan, saya ingin nanti bisa merancang dan mengawasi. Bukan hanya mengangkat batu, tapi membangun sesuatu yang lebih besar,” katanya.

Photo Iist (Sikfar Rezi bersama Alwan Ramadhan dan Ulul Azmi Mahasiswa Asal Kabupaten Sumbawa)

Motivasi lain yang lebih dalam adalah keinginan membanggakan orang tua dan membuka jalan bagi adik-adiknya. “Saya ingin jadi contoh. Kalau saya bisa kuliah lewat beasiswa ini, adik-adik saya juga bisa punya harapan,” ucapnya.

Ketika pengumuman resmi keluar dan namanya tercantum di daftar penerima, perasaan yang muncul campur aduk. “Saya diam dulu. Takut salah baca. Setelah dipastikan, saya langsung telepon Bapak. Suaranya serak. Dia bilang, ‘Alhamdulillah, nak. Bapak bangga.’ Saat itu saya nangis,” kenang Sikfar.

Bagi dirinya, beasiswa ini bukan sekadar kesempatan kuliah di Politeknik Astra, Cikarang. Ini adalah pintu keluar dari keterbatasan, sekaligus kesempatan untuk kembali suatu hari nanti—bukan sebagai buruh, melainkan sebagai tenaga ahli yang ikut membangun Sumbawa Barat.

Kedatangan di Cikarang bukan hanya soal pindah tempat. Bagi Sikfar, itu seperti memasuki dunia yang sama sekali berbeda. Di kampus, materi kuliah langsung menghajar. Gambar teknik, perhitungan struktur, ilmu bahan, dan standar konstruksi yang ketat membuat kepala terasa penuh. “Di rumah, saya biasa bantu Bapak angkat semen. Sekarang saya harus paham kenapa struktur itu harus dihitung sampai detail. Awalnya susah banget. Saya sering begadang, kadang sampai jam tiga pagi,” ceritanya.

 

Tantangan akademik itu semakin terasa karena latar belakangnya yang terbatas. Banyak teman sekelas sudah terbiasa dengan istilah-istilah teknik sejak SMK. Sementara Sikfar harus mengejar dari nol. “Ada rasa minder. Tapi saya bilang ke diri sendiri: kalau Bapak bisa kerja keras di bawah terik matahari, saya harus bisa kerja keras di depan buku.”

 

Perbedaan lingkungan juga menjadi ujian tersendiri. Cuaca Cikarang yang lembap, keramaian kota, dan gaya hidup yang jauh lebih cepat membuatnya sering merasa asing. “Di Taliwang, malam masih bisa dengar jangkrik. Di sini, malam isinya bunyi kendaraan dan AC. Kadang saya kangen bau tanah basah setelah hujan di kampung,” ujarnya lirih.

Namun tantangan terbesar justru datang dari dalam diri, tekanan sebagai penerima beasiswa AMMAN Scholars. Ia sadar, namanya bukan hanya mewakili dirinya, tapi juga mewakili Sumbawa Barat, mewakili ayahnya yang buruh bangunan, dan mewakili harapan banyak orang di kampung.

“Saya sering kepikiran. Kalau saya gagal, bukan cuma saya yang kecewa. Bapak, Mama, tetangga, bahkan orang-orang yang dulu bilang ‘kamu pasti bisa’ ikut kecewa. Itu berat,” akunya.

Tekanan itu kadang membuatnya takut salah langkah. Takut nilai jelek. Takut terlihat lemah. Tapi perlahan, Sikfar belajar mengubah tekanan itu menjadi bahan bakar. “Saya bilang ke diri sendiri: saya di sini bukan cuma buat diri sendiri. Saya di sini supaya nanti bisa pulang membawa sesuatu. Bukan hanya ijazah, tapi kemampuan.”

Di tengah rasa kangen, lelah, dan tanggung jawab yang besar, ada satu hal yang selalu menguatkannya: bayangan ayahnya yang masih bekerja di lapangan. “Setiap kali saya hampir menyerah, saya ingat tangan Bapak yang kasar. Saya bilang, ‘Ini untuk Bapak juga.’”

Bagi Sikfar, menjadi penerima beasiswa bukan hanya soal kesempatan. Itu adalah tanggung jawab yang harus ia bawa dengan tegak—meski langkahnya masih goyah.

Beberapa bulan lagi, tepatnya di Oktober 2026, Sikfar Rezi Ramadhan akan berdiri di atas panggung wisuda. Ia akan mengenakan toga, memegang ijazah D3 Teknik Sipil dan Infrastruktur, dan menatap kamera dengan senyum yang mungkin masih disertai air mata. Di kursi penonton, Dedi Surya Pratama—ayahnya yang sehari-hari menjadi buruh bangunan—diyakini akan duduk diam, tangan kasarnya menggenggam erat ujung kain, mencoba menahan haru yang sudah lama ditahan.

Bagi Sikfar, momen itu bukan sekadar akhir dari tiga tahun perjuangan di Cikarang. Itu adalah titik di mana anak buruh bangunan dari Lingkungan Tiang Enam, Kelurahan Kuang, akhirnya membuktikan bahwa kerja keras dan kesempatan yang diberikan AMMAN Scholars mampu mengubah arah hidup. Dari sana, ia berharap bisa pulang membawa lebih dari sekadar ijazah—membawa kemampuan, membawa harga diri, dan membawa janji untuk ikut membangun Sumbawa Barat dengan tangan yang kini sudah terlatih merancang, bukan hanya mengangkat.

Dari sisi manajemen PT Amman Mineral Nusa Tenggara, program AMMAN Scholars D3 dipandang jauh lebih dari sekadar beasiswa. Aji Suryanto, Senior Manager Social Impact AMMAN, menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan investasi jangka panjang untuk pengembangan sumber daya manusia. “AMMAN Scholars D3 bukan program ikatan dinas. Kami memberikan kebebasan kepada para penerima manfaat untuk menentukan langkah terbaik bagi masa depan mereka,” ujarnya.

Yang paling penting, menurut Aji, adalah bekal yang mereka bawa pulang: kompetensi, karakter, dan daya saing yang kuat. Dengan bekal itu, para alumni diharapkan mampu berkontribusi sebagai bagian dari solusi pembangunan—baik di sektor industri, kewirausahaan, maupun bidang lain yang mereka pilih. Bagi AMMAN, keberhasilan program ini tidak diukur dari seberapa banyak lulusan yang kembali bekerja di perusahaan, melainkan seberapa besar dampak positif yang mereka ciptakan bagi masyarakat dan daerah asalnya.Ln

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *