20260503_142708

Lensantbnews.com, Mataram, – Masyarakat Lombok kembali mendesah kesal. Di hari biasa yang sama sekali bukan puncak arus mudik, Pelabuhan Kayangan justru menyuguhkan pemandangan antrian panjang yang mengenaskan. Penumpang terpaksa berdiri, duduk, bahkan tertidur di lantai terminal selama berjam-jam hanya untuk naik kapal. Efisiensi pelabuhan? Sepertinya masih jauh panggang dari api.

Ahmad, penumpang travel AKDP yang baru saja mengalami sendiri kekacauan tersebut, tak bisa menahan amarahnya.

“Padahal ini bukan musim mudik, Minggu biasa tanggal 3 Mei. Tapi kenapa harus antri sampai berjam-jam? Setiap hari begini, masa iya hari biasa saja seperti ini?” ujar Ahmad dengan nada kesal. Minggu, (3/5).

Menurut Ahmad, penderitaan tidak berhenti hanya di antrian tiket atau masuk terminal.

“Belum lagi antrian menunggu kapal sandar. Bisa memakan waktu 1 sampai 1,5 jam. Kapalnya lambat sandar, penumpang yang sudah capek nunggu antrian panjang makin kelelahan. Ini sudah seperti rutinitas setiap hari,” tambahnya.

Banyak warga dan penumpang reguler yang menggunakan Pelabuhan Kayangan sebagai pintu gerbang utama ke Pulau Sumbawa dan sekitarnya mengeluhkan hal yang sama. Antrian kendaraan yang mengular, ruang tunggu yang sesak, hingga pelayanan yang terkesan lamban menjadi keluhan rutin. Ironisnya, ini terjadi di luar musim libur besar, ketika volume penumpang seharusnya lebih terkendali.

Manajemen Pelabuhan Dipertanyakan

Kondisi ini memunculkan pertanyaan keras: Apa yang sebenarnya terjadi dengan pengelolaan Pelabuhan Kayangan? Apakah armada kapal kurang memadai? Atau prosedur operasional yang ketinggalan zaman? Atau mungkin ada masalah manajemen yang membuat penumpang selalu menjadi korban?

Sementara penumpang seperti Ahmad harus sabar menahan lelah dan waktu yang terbuang sia-sia, masyarakat menuntut perbaikan segera. “Kami bukan minta mewah, tapi layanan dasar yang manusiawi. Jangan sampai setiap kali ke pelabuhan seperti masuk penjara antrian,” keluh salah seorang penumpang lain yang enggan disebut namanya.

Pihak otoritas pelabuhan dan pemerintah daerah belum memberikan respons resmi atas keluhan yang semakin mengeras ini. Padahal, sebagai salah satu pelabuhan penting di NTB, Kayangan seharusnya menjadi kebanggaan, bukan tempat keluhan massal.

Kasus antrian panjang di Pelabuhan Kayangan ini menjadi cermin bahwa infrastruktur transportasi laut di daerah masih jauh dari kata prima. Di tengah gencarnya pembangunan yang sering digaungkan, realita di lapangan justru menyisakan kepahitan bagi masyarakat kecil yang bergantung pada angkutan laut sehari-hari.

Saatnya bertindak, bukan sekadar mendengar keluhan. Penumpang sudah lelah menunggu perubahan.Ln

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *